Cerita Dewasa – Tak Sengaja Tertidur Dikamar Tanteku

22453 views

Cerita Dewasa – Tak Sengaja Tertidur Dikamar Tanteku | Cerita ini terjadi saat aku masih berusia 18 tahun, dan masih bersekolah disalah satu SMA di Pekanbaru. Namaku Chris, aku peranakan Canada-Chinese. Papa saya asal Canada, dan Mama saya Chinese Indonesia. Kata teman2 wajahku sih lumayan…ganteng… ehmm.

Cerita Dewasa - Tak Sengaja Tertidur Dikamar Tanteku Cerita Dewasa - Tak Sengaja Tertidur Dikamar Tanteku Cerita Dewasa - Tak Sengaja Tertidur Dikamar Tanteku ibu muda bugil

Cerita Dewasa – Tak Sengaja Tertidur Dikamar Tanteku

Cerita Dewasa – Tak Sengaja Tertidur Dikamar Tanteku | Tinggi saya 180 cm, ngak begitu tinggi dibandingkan dengan Papayang 188 cm. Saya lahir di Canada, tapi sewaktu umur 10 tahun, Papa ditugaskanke Pekanbaru, Indonesia.
Jadi aku juga ikut, dan bersekolah disana. Mula-mula terasa juga kota ini bagiku. Tapi lama kelamaan aku juga dapat terbiasa. Terus terang, pemikiranku lebih condong kepada pemikiran-pemikiran Timur, mungkin karena didikan Mama yang keras.

Cerita Dewasa – Tak Sengaja Tertidur Dikamar Tanteku | Biarpun di negara2 Barat sudah biasa terjadihubungan seks remaja, namun aku belum pernah melakukannya dengan pacarku…well… at least pada saat itu.Hari ini dimulai liburan Natal. Papa tidak pulang ke Canada seperti biasanya,katanya ada banyak pekerjaan. Mama bilang kalau aku merasa bosan disini sebaiknya aku pergi ke Jakarta, sekalian menjenguk kakek. Katanya aku juga bisa mencari tante Anneke kalau ada waktu. Tante Anneke ini teman baiknya Mama waktu dulu. Sama seperti Mama, dia juga dulu sekolah di Canada, dan pernah tinggal lama disana.

Cerita Dewasa – Tak Sengaja Tertidur Dikamar Tanteku | Saya sudah lama tidak pernah bertemu dengan tante Anneke, tapi seingatku orangnya cantik sekali. Usianya sekarang mungkin sekitar 30 tahun, dia lebih muda dari mama. Sewaktu di Canada dia sering menginap di rumah kami, dan bermain-main dengan aku. Akhirnya aku iyakan tawaran mama untuk pergi ke Jakarta dan mencoba kucari tante anneke.Hari kedua di Jakarta, aku minta diantar oleh supir ke rumahnya tante Anneke. Rumahnya terletak di salah satu kompleks perumahan di Jakarta Selatan. Sebelumnya mama sudah menelepon dan memberitahukan kepadanya bahwa aku akan datang pada hari itu.

“Hi… wahh udah besar sekali kamu sekarang yah Chris… udah ngak tanda lagi Tante sama kamu sekarang… hahaha”, seingatku kira-kira begitulah katanya sewaktu pertama kali melihat aku setelah sekian tahun ngak jumpa. Wajahnya masih saja sama seperti yang dulu, seakan dia tidak bertambah tua sedikitpun.

“Oh yah… tuh supirnya disuruh pulang aja Chris… ntar kamu bawa aja mobil Tante kalo mau pulang…”, aku pun mengiyakan, dan menyuruh pulang supirnya.

“Wah… besar sekali rumahnya yah Tante…”, kataku sewaktu kami memasuki ruang tamu. Aku dengar dari mama sih, katanya suaminya tante Anneke ini anak salah seorang konglomerat Jakarta, jadi ngak heran kalau rumahnya semewah ini.

Setelah itu kami ngobrol-ngobrol, dia menanyakan keadaan mama, papa dan kakek. Tante Anneke juga sudah lama tidak betemu dengan Mama. Lumayan lama kami ngobrol, setelah itu dia mengajak aku untuk makan malam.

“Makan dulu yuk Chris… tuh udah disiapin makanannya sama si Ning”, katanya menunjuk ke pembantunya yang sedang menghidangkan makanan di meja makan.

“Kita ngak nunggu Om Joe??”, aku menanyakan suaminya.

“Oh… ngak usah… Om mu ngak pulang malam ini katanya”

“Oh… ok deh”, kataku sambil beranjak ke ruang makan. Rumah sebesar ini cuman dihuni sendirian dengan pembantunya. Berani juga tanteku ini.

“Kamu berani pulang ntar Chris?? Udah malem loh ini…”, katanya sambil ngelirik ke jam dinding yang udah nunjukin jam 7 lewat 30 menit.

“Ah berani kok Tante…”

“Hmmm… mending kamu tidur disini aja deh malem ini… tuh ada kamar kosong di atas”

“Umm… iyah deh… ntar aku telepon ke Kakek kalo gitu…”, dalam hati aku mengira bahwa tanteku ini menyuruhku menginap karena dia takut sendirian di rumah, sama sekali tidak ada pikiran negatif dalam otakku sewaktu aku mengiyakan tawarannya.

Sehabis makan aku pun menelepon ke rumah kakek, dan memberitahu bahwa hari ini aku menginap di rumahnya tante Anneke.

“Oh iyah… kalau kamu mau mandi air panas, pake aja kamar mandi Tante. Ntar kamu pake aja bajunya Om Joe. Yuk sini!!”

“He-eh”, aku mengangguk sambil mengikutinya. Kamar mandi yang dimaksud terletakdi dalam kamarnya. Kamarnya benar-benar mewah dan besar. Dengan tempat tidur ukuran double di tengah-tengah ruangan, mini theatre set, dan sebuah kamar mandi di sudut ruangan.

“Nih… coba… bisa pake ngak kamu??”, dia memberikan t-shirt dan celana pendek kepada aku.

“Bisa kayaknya…”, aku pun mengambil pakaian itu dan membawanya ke kamar mandi.Sehabis dari kamar mandi, aku sempat sedikit kaget melihat tante Anneke. Diamengenakan baju tidur tipis, tidur tengkurap di atas tempat tidur. Kelihatandengan jelas celana dalamnya, tapi aku tidak melihat tali BH di punggungnya.Terangsang juga aku melihat pemandangan seperti itu. Kelihatannya ia tertidursaat menonton TV. TV nya masih menyala. Aku berjalan ke arah TV, bermaksud mematikannya. Melihat adegan panas yang sedang berlangsung di TV, mendadak aku terdiam pas di depan TV. Kulihat kebelakang, tante Anneke masih tidur. Aku berdiri menonton dulu, sekedar iseng. 5 menit lagi ah baru kumatikan, begitu pikiranku saat itu.

“Hey…”, saat aku sedang asyik menonton, tiba-tiba terdengar teguran halus tante Anneke, diikuti oleh tawa tertahannya.

Aku benar-benar malu sekali waktu itu. Aku berbalik ke belakang sambil tersenyum malu-malu. Waktu aku berbalik,kulihat tante Anneke sudah duduk tegak di atas tempat tidur. Samar-samar terlihat puting susunya dari balik baju tidurnya yang tipis.

“Kirain Tante udah tidur…hehe”, kataku asal-asalan sambil berjalan hendak keluar dari kamar.

“Chris… bisa tolong pijitin badan Tante?? Pegel nih semua…”, terdengar suara helaan nafas panjang, dan suara kain jatuh ke lantai.

Saat aku berbalik hendak menjawab, kulihat tante Anneke sudah kembali tidur tengkurap di tempat tidur, tapi kali ini tanpa baju tidur, satu-satunya yang masih dikenakannya adalah celana dalamnya.

“Ya…”, hanya itu saja yang bisa keluar dari mulutku. Aku pun berjalan ke arah tante Anneke. Sedikit canggung, kuletakkan tanganku di atas bahunya.

“Engghh…”, terdengar dia mengerang perlahan.

“Om Joe kapan pulangnya Tante??”, kuatir juga aku ketahuan oleh suaminya.

“Emmm… mungkin minggu depan… ngak tau deh… kalau Om mu sih… jarang dirumah. Mungkin seminggu pulang sekali”, dalam hati aku merasa kasihan juga kepada tante Anneke. Pantas saja dia merasa kesepian. “Fhhuuuhhh…”, kembali terdengar helaan nafas panjang. “Kamu udah punya pacar Chris??”, tanyanya memecah keheningan.

“Yah… di Pekanbaru”

“Hehehe… cantik ngak Chris??”, tante Anneke emang dari dulu senang bercanda. Sangat berbeda dengan ibuku yang kadang bersikap agak tertutup, tante Anneke adalah penganut kebebasan Barat. Aku hanya tersenyum saja menjawab pertanyaannya.

“Turun dikit Chris…”, aku pun menurunkan pijatanku dari bahu ke punggungnya.

“Kamu duduk aja di atas pantat Tante… supaya bisa lebih kuat pijitannya”. Aku yang semula mengambil posisi duduk di sampingnya, sekarang duduk di atas pantatnya.

“Unghh… berat kamu…”, mendengus tertahan dia waktu aku duduk di atasnya.

“Hehehe… tapi katanya suruh duduk disini…”, cuek saja aku melanjutkan pijatanku. Kemaluanku sudah terasa menegang sekali, sesekali aku tekan kuat2 Kemaluanku ke pantat tante Anneke. Walaupun aku masih memakai celana lengkap, namun sudah terasa nikmat dan hangat sewaktu Kemaluanku aku tekan ke pantatnya.

“Iiihh… nakal ya… bilangin mama kamu lho…”, katanya sewaktu merasakan Kemaluanku menekan-nekan pantatnya yang lumayan besar itu.

“Udah belom Tante?? Udah cape nih…”, kataku setelah beberapa menit memijat punggungnya.

“Iyah… kamu berdiri dulu deh… Tante mo balik…”, aku berdiri, dan tante Anneke sekarang berbalik posisi. Sekarang aku bisa melihat wajahnya yang cantik dengan jelas, payudaranya yang masih kencang itu berdiri tegak dihadapanku.

Puting susunya yang merah kecoklatan terlihat begitu menantang. Aku sampai terbengong beberapa detik dibuatnya. “Hey… pijit bagian depan dong sekarang…”, katanya. Aku duduk di atas pahanya, kuremas dengan lembut kedua teteknya.

Lalu kupuntir-puntir puting susunya dengan jari-jariku. “Ihh…geli… hihihihi…”, cekikikan dia. Aku benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan nafsuku lagi. Sekarang ini yang ada dalam otakku hanyalah bagaimana memuaskan tante Anneke, memberinya kepuasan yang selama ini jarang ia dapatkan dari suaminya.

Rasa kasihan akan tante Anneke yang telah lama merindukan kehangatan laki-laki bercampur dengan nafsuku sendiri yang sudah menggelora.

Aku menarik celana dalamnya dengan agak kasar. Kulihat dia hanya diam saja sambil memejamkan mata pasrah. Kuakui inilah pertama kalinya aku melihat wanita telanjang secara nyata. Tapi agaknya aku tidak begitu canggung, sepertinya aku melakukan semuanya dengan begitu alamiah.

Tante Anneke membuka lebar kedua pahanya begitu celana dalamnya kulepas. Kulihat dengan jelas Memeknya dengan bulu-bulu halus yang dicukur dengan rapi membentuk segitiga di sekitarnya. “Udah sering beginian yah kamu Chris??”, tanyanya heran juga melihat aku begitu mantap.

“Ehh… ngak kok… baru sekali Tante…”, nafasku sudah memburu… kata-katapun sudah sulit kuucapkan dengan tenang. Kulihat nafas tante Anneke juga sudah mulai memburu, berkali-kali ia menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.

“Jilatin dong Chris…”, katanya memelas. Mulanya aku ragu-ragu juga, tapi kudekatkan juga kepalaku ke Memeknya. Tidak ada bau tidak enak sama sekali,tante Anneke rajin menjaga kebersihan Memeknya aku kira. Kujulurkan lidahkumenjilati dari bawah menuju ke pusar.Beberapa menit aku bermain-main dengan Memeknya. Tante Anneke hanya bisa mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat. Kulihat ia meremas sendiri buah dadanya dan memuntir-muntir sendiri puting susunya. Aku berdiri sebentar, melepaskan semua pakaianku. Bengong dia melihat Kemaluanku yang 18 cm itu. Aku cuman tersenyum kepadanya, dan melanjutkan menjilati Memeknya.

Beberapa saat kemudian ia meronta dengan kuat.

“Aaahh… ohh God… aaargghhh…”, bagaikan gila, dia menjepit kepalaku dengan pahanya, lalu menekan kepalaku supaya menempel lebih kuat lagi ke Memeknya dengan dua tangannya. Aku susah bernafas dibuatnya.

“Lagi… arghh… clitorisnya Chriss… ssshhh… yah… yah… lagi…oooohh…”, makin menggila lagi dia ketika aku mengulum clitorisnya, dan memainkannya dengan lidahku di dalam mulut. Aku memasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dalam lubang Memeknya. Bau cairan kewanitaan semakin keras tercium.

Memeknya benar-benar sudah basah. Tiba-tiba dia menjambak rambutku dengan kuat, dan menggerakkan kepalaku naik turun di Memeknya dengan cepat dan kasar. Lalu ia menegang, dan tenang. Saat itu juga aku merasa cairan hangat semakin banyak mengalir keluar dari Memeknya. Aku jilatin semuanya.

“Ohhh… God… bener2 hebat kamu Chris… lemes Tante… aahh… ngak kuat lagi deh untuk berdiri… shitt… udah lama ngak begini…”, dia terbujur lemas setelah 1/2 jam yang melelahkan itu.

Aku cuman tersenyum. Perlahan kutarik kedua kakinya ke tepi tempat tidur, kubuka pahanya selebar-lebarnya dan kujatuhkan kakinya ke lantai.

Memeknya sekarang terbuka lebar. Nampaknya ia masih terbayang-bayang atas peristiwa tadi dan belum sadar atas apa yang kulakukan sekarang padanya. Begitu ia sadar Kemaluanku sudah menempel di bibir Memeknya yag begitu bersih.

“Ohh… “, ia cuman bisa menjerit tertahan. Lalu ia pura-pura meronta tidak mau.

Aku juga tidak tahu bagaimana cara memasukkan Kemaluanku ke dalam Memeknya. Aku sering lihat di film-film, dan mereka melakukannya dengan mudah. Tapi ini sungguh berbeda. Lubangnya sangat kecil, mana mungkin bisa masuk pikirku.

Tiba-tiba kurasakan tangan tante Anneke memegang Kemaluanku dan membimbing Kemaluanku ke Memeknya.

“Tekan disini Chris… pelan2 yah… punya kamu gede banget sih…”, pelan ia membantuku memasukkan Kemaluanku ke dalam Memeknya. Belum sampai seperempat bagian yang masuk ia sudah menjerit2 kesakitan.

“Aahhhh… sakitt… oooh… pelan2 Chris… aduuh….”, tangan kirinya masih menggenggam Kemaluanku, menahan laju masuknya agar tidak terlalu deras. Sementara tangan kanannya meremas-remas kain sprei, kadang memukul-mukul tempat tidur.

Aku merasakan Kemaluanku diurut-urut di dalam Memeknya. Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tapi tangan tante Anneke membuat Kemaluanku susah untuk masuk lebih ke dalam lagi. Aku menarik tangannya dari Kemaluanku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya. Kemudian kudorong Kemaluanku masuk sedikit lagi.

“Aduhhh…sakkkitt… ooohhh… ssshhhh… lagi… lebih dalam Chriss… aaahhhh”, kembali tante Anneke mengerang dan meronta.

Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tak sabar lagi kupegang erat pinggulnya supaya ia berhenti meronta, lalu kudorong sekuatnya Kemaluanku kedalam. Kembali tante Anneke menjerit dan meronta dengan buas.

Aku diam sejenak, menunggu dia supaya agak tenang.

“Goyang dong Chris…”, dia sudah bisa tersenyum sekarang. Aku ! menggoyang Kemaluanku keluar masuk di dalam Memeknya. Tante Anneke terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku. Lama juga kami bertahan di posisi seperti itu.

Kulihat dia hanya mendesis, sambil memejamkan mata. Tiba-tiba kurasakan Memeknya menjepit Kemaluanku dengan sangat kuat.

Tubuh tante Anneke mulai menggelinjang, nafasnya mulai tak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

“Ohhh… ooohh… Tante udah mo keluar nih… sshh… aaahh…”, goyanganpinggulnya sekarang sudah tidak beraturan.

“Kamu masih lama ngak Chris??? Kita keluar bareng aja yuk…. aahhh…”, tak menjawab, aku mempercepat goyanganku.

“Aahhh… shitt… Tante keluar Chrisss… ooohhh… gile…”, dia menggelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku. Aku semakin bersemangat menggenjot. Aku juga merasa bahwa aku bakal keluar tidak lama lagi.

“Aahhh… sshh…”, kusemprotkan saja cairanku kedalam Memeknya. Lalu kucabut Kemaluanku, dan terduduk di lantai dan tubuhku mulai melemas karena kehabisan tenaga terkaparlah aku bersama tante anneke .

tante sempat bilang dan bersisik ke telingaku … kamu hebat  Criss … Tante terpuasakan oleh aksimu tadi …,  ya begituh yang kudengar saat itu.dan akhirnya kita berdua terbaring dan saat aku bangun jam dinding sudah menunjuk kan pukul 5 pagi dan akupun meminta ijin kepada tante untuk keluar kamar dan berganti pakaian.

Incoming search terms:

  • cerita sex tertidur
  • bacaan dewasa tak sengaja selingkuh dirumah
  • cerita selingkuh tanpa sengaja
  • cerita ngentot t sengaja dg bibiku
  • cerita menginap di rumah tante
  • Cerita inces kakekku bersetubuh dengan bibiku
  • cerita dewasa tante ku ngak sengaja lewat kamar mandi
  • cerita dewasa dirumah tanteku
  • Tidur dikamar
  • Cerita 18 tahun tak sengaja bareng mama

Tags: #Cerita Daun Muda #cerita dewasa #cerita setengah baya #Cerita Sex Sedarah #cerita tante girang #selingkuh #terbaru 2016

Tinggalkan pesan "Cerita Dewasa – Tak Sengaja Tertidur Dikamar Tanteku"